Home Galigo Forum Kamus Bugis Download
.:. Update Terbaru .:.
.:. Ceramah / Kecapi.:.
  • Kecapi Bugis Lengkap Arkas
  • Kecapi Bugis Arkas dkk
  • Kecapi Bugis Yabe Lale
  • Kecapi Bugis Janda
  • Kacapi Bugis La'Dores
  • Kacapi Bugis Onde-Onde
  • Ceramah Ta'sia
  • Ustadz Amri
  • → Lihat Kecapi Lainnya...
    .:. Tentang Ogi' .:.
  • Suku Kaum Bugis
  • Arti Daeng Dalam Bugis
  • Ulama Dimata Bugis
  • Sifat Merantau Suku Bugis
  • Assikalaibine
  • Etos kerja Orang Bugis
  • Prinsip Orang Bugis
  • Jiwa Pelaut Orang Bugis
  • → Lihat Sejarah Lainnya...
    .:. Sejarah Ogi' .:.
  • Asal Usul Raja Bugis
  • Asal Kata Bugis
  • Asal Usul Enrekang
  • Asal Usul Nama Sulawesi
  • The Bugis
  • La Galigo
  • Sejarah Tanah Luwu
  • sejarah pare-pare
  • → Artikel Lainnya...
    .:. Sekilas Tanah BONE .:.
  • La Uliyo Bote’E
  • La Inca
  • La Parenrengi Arung Ugi
  • La Pabbenteng Petta Lawa
  • Bone Dan Gowa Bersatu
  • Enrekan Vs Bone
  • Sejarah Tanah Bone
  • Akkarungeng Ri Bone
  • → Artikel Lainnya...
    .:. Support By .:.
    Forum SempugiForum Galigo Bugis
    .:. Adat & Budaya Ogi' .:.
    .:. Lontara / Cerita .:.
  • Baju Bodo
  • Li'pa Sa'bbe
  • Accera Kalompong
  • Tari Patuddu
  • Kamasutra Versi Bugis
  • Permainan Rakyat Bugis
  • Upacara Adat Khitan
  • → Artikel Lainnya...
  • Pribahasa Bugis
  • Lontara Pananrang
  • Waktu Bugis
  • Mappasitinaja
  • Amaradekangeng
  • Pada i'di Pada E'lo
  • Ati Mapaccing
  • → Artikel Lainnya...

    سْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــم
  • Barasa'
  • Ekosistem Tappareng Karaja I
  • Ekosistem Tappareng Karaja II
  • Ekosistem Tappareng Karaja III
  • Keberanian Orang Bugis-Makassar
  • Nilai2 Budaya Bugis-Makassar
  • Misteri Huruf K (Sulawesi)
  • → Artikel Lainnya...
  • Sureq Galigo
  • Pappasenna Maccae Ri Luwu
  • Pangaja'na Abdul Abadi
  • Nilai2 Budaya dalam 'Elong Ugi'
  • Belajar Tajwid
  • Cara Shalat & Bacaanya
  • Ceramah Subuh
  • → Ceramah Lainnya...

    BISSU ; Celah di Budaya Bugis


    BISSU ; Celah di Budaya Bugis


    Sepertinya hanya di budaya
    Bugis, dikenal lima
    (5) jenis gender. Menurut penelitian anthropolog Australia, Sharyn Graham dalam
    research reportnya; Sex, Gender and Priests in South Sulawesi,
    Indonesia
    , IIASNewsletter|#29|
    November 2002 27
    , budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan
    satu para-gender; laki-laki (oroane),
    perempuan (makunrai),
    perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai), laki-laki yang berpenampilan
    seperti layaknya perempuan (calabai)
    dan para-gender bissu (Lihat
    juga Manusia Bugis, C Pelras, hal 191). Jenis yang terakhir ini lebih banyak
    disalah artikan dan dianggap identik dengan jenis calabai, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya
    Bugis tidak demikian. Juga, tidak sedikit yang mempertautkan keunikan
    para-gender Bissu ini
    dengan kepercayaan lokal yang disebut Tolotang, hal yang mana dibantah secara
    nyata oleh komunitas Amparita Sidrap yang menjadi representasi penganut
    Tolotang dalam suku Bugis.


    Kehadiran dan
    Peranannya


    Gambaran pergeseran struktur
    nilai dalam kebudayaan Bugis selayaknya bisa kita sematkan pada salah satu
    realitas budaya bugis yang mulai terpinggirkan; Bissu. Peran Bissu
    di awal pembentukan masyarakat Bugis sangatlah kuat. Keberadaan Bissu dalam sejarah manusia Bugis
    dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Ketika Batara Guru
    sebagai cikal bakal manusia Bugis dalam sure’La Galigo, turun ke bumi dari
    dunia atas ( botinglangik)
    dan bertemu dengan permaisurinya We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (borikliung), bersamaan dengan itu turun
    pula seorang Bissu pertama
    bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut.
    Menurut tutur lisan Hajji Baco’, seorang Bissu
    , Batara Guru yang ditugasi oleh Dewata mengatur bumi rupanya tidak punya
    kemampuan management yang handal, karenanya diperlukan bissu dari botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai
    kehidupan. Ketika Bissu ini
    turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya
    kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat dan semua hal yang
    diperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi.


    Melalui perantara bissu inilah, para manusia biasa dapat
    berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di langit.


    Bissu adalah pendeta agama
    Bugis kuno pra-Islam. Bissu
    dianggap menampung dua elemen gender manusia, lelaki dan perempuan ( hermaphroditic beings who embody female and male
    elements
    ), juga mampu mengalami dua alam; alam makhluk dan alam
    roh (Spirit). Ketua
    para bissu adalah seorang yang
    bergelar Puang Matowa atau Puang Towa. Secara biologis, sekarang, bissu kebanyakan diperankan oleh
    laki-laki yang memiliki sifat-sifat perempuan (wadam) walau ada juga yang asli
    perempuan, yang biasanya dari kalangan bangsawan tinggi, walau tidak mudah
    membedakan mana bissu yang
    laki-laki dan mana bissu yang
    perempuan. Dalam kesehariannya, bissu
    berpenampilan layaknya perempuan dengan pakaian dan tata rias feminim, namun
    juga tetap membawa atribut maskulin, dengan membawa badik misalnya. Dalam pengertian bahasa, bissu berasal dari kata bugis; bessi,
    yang bermakna bersih. Mereka disebut Bissu
    karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), dan tidak haid. Ada juga yang
    menyatakan bahwa kata Bissu
    berasal dari kata Bhiksu atau Pendeta Buddha, sebagaimana diungkapkan oleh C
    Pelras dalam Manusia Bugis, hal 68, sebagai salah satu bentuk pengaruh bahasa
    Sansekerta dalam bahasa Bugis. Tentang agama Buddha sendiri, beberapa
    sanak-saudara saya yang tinggal di Sengkang mengaku masih menganut agama Buddha
    ini, yang dikatakan sebagai agama mula-mula orang Bugis. Mereka masih melakukan
    ritual keagamaan tersendiri, walau saya belum melakukan perbandingan dengan
    ritual agama Buddha yang dilakukan oleh umumnya masyarakat Buddha di Indonesia.
    Juga ada bukti sejarah yang memperkuat fenomena ini, misalnya penemuan Arca
    Buddha bercorak Amarawati di Sempaga di pantai Sulawesi Selatan yang berasal
    dari abad II Masehi. Ditengarai bahwa para pendeta Buddha, Biksu ini
    ‘menumpang’ kapal-kapal dagang India
    menuju perairan Nusantara.


    Dalam struktur budaya bugis,
    peran Bissu tergolong
    istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya
    operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual
    tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi), karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga
    tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’
    La Galigo. Apabila sure’ ini
    hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang
    menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan
    gendang berhenti, tampillah Bissu
    mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan
    disebut dalam pembacaan sure’
    itu. Bissu juga berperan
    mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan,
    kelahiran, perkawinan ( indo’ botting),
    kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.


    Sakti?


    Dari surek La Galigo sendiri
    sebagai referensi utama sejarah purba suku Bugis, membuktikan bahwa justru
    kehadiran Bissu dianggap
    sebagai pengiring lestarinya tradisi keilahian/religiusitas nenek moyang. Di
    masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman
    Sawerigading, peran Bissu
    sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus
    ‘perahu cinta’ bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We
    Cudai. Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna tapi tak
    mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan
    kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus
    perempuan, manusia sekaligus Dewa (Sharyn Graham, 2002).


    Kisah kesaktian Bissu ini dapat juga kita temukan dalam
    kisah Arung Palakka ketika pada tahun 1667 melakukan penyerbuan bersama tentara
    Soppeng terhadap Lamatti, sebuah distrik di Bone Selatan, sebanyak seratus Bissu Lamatti tampil dengan senjata walida (pemukul tenun) sambil
    mendendangkan memmang
    (nyanyian). Anehnya, tak satupun senjata prajurit Bone dan Soppeng yang mampu
    melukai para bissu sakti
    tersebut (LY Andaya, 2006, hal 106).


    Dalam ritual yang masih bisa
    ditemui sampai sekarang, tradisi maggiri’
    merupakan salah satu pameran kesaktian Bissu.
    Tradisi menusuk diri dengan badik
    ini dimaksudkan untuk menguji apakah roh leluhur/dewata yang sakti sudah
    merasuk ke dalam diri bissu
    dalam sebuah upacara, sehingga apabila sang Bissu
    kebal dari tusukan badik itu,
    ia dan roh yang merasukinya dipercaya dapat memberikan berkat kepada yang
    meminta nya. Namun, apabila badik tersebut menembus dan melukai sang Bissu, maka yang merasukinya adalah roh
    lemah atau bahkan tidak ada roh leluhur sama sekali yang menghinggapi (Sharyn Graham).


    Menjadi Bissu


    Menjadi Bissu dipercaya
    merupakan anugerah dari dewata. Tidak semua orang, bahkan jenis calabai, bisa menjadi bissu atas kehendak sendiri. Walaupun
    sebahagian besar Bissu pada
    mulanya memiliki kecenderungan sebagai calabai.
    Metamorfosis menjadi seorang Bissu biasanya dimulai sejak kanak-kanak, ketika
    seorang anak mengidap ambiguitas orientasi seksual dan di saat yang sama
    menampakkan ‘keterkaitan’ dengan dunia gaib. Anak-anak dengan keunikan ganda
    ini kemudian akan dipersiapkan menjadi bissu.
    Untuk menjadi bissu diperlukan banyak persyaratan untuk membuktikan bahwa dia
    menerima ‘berkat ‘itu diantaranya berbaring dalam sebuah rakit bambu di tengah
    danau selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum dan bergerak. Jika
    berhasil, maka dia kemudian akan ditahbiskan menjadi Bissu sejati (Sharyn Graham).


    Konflik dengan Islam?


    Namun di saat yang bersamaan,
    karena proses konstruksi politik dan agama, Bissu
    dianggap sebagai satu celah yang tercela dalam masyarakat Bugis modern yang
    Islami karena dianggap menentang sunnatullah yang hanya mengenal jenis gender
    laki-laki dan perempuan, selain peran sinkretisme yang dibawanya. Bahkan salah
    satu doktrin yang memojokkan status mereka adalah adanya pemeo bahwa bila
    menyentuh Bissu atau calabai maka konon akan membawa sial
    selama 40 hari – 40 malam. Ironis! Menjadi bissu
    tidak lagi dianggap dapat menaikkan derajat sosial sebagaimana yang
    berlaku di masa lampau, malah mendatangkan petaka keterasingan dalam masyarakat
    (agamis) Bugis modern.


    Dalam beberapa diskursus,
    eksistensi Bissu cenderung
    fenomenal mengingat keberadaannya yang kontroversial dalam masyarakat Bugis
    modern yang Islami. Karena keberadaannya yang ambivalen, bissu dianggap tidak menerima
    sunnatullah, karena secara fisik mereka adalah laki-laki tapi berpenampilan
    seperti perempuan ( tranvestities).
    Bissu juga dianggap
    menyimpang dari agama karena kecenderungannya menganggap arajang dan mustika arajang memiliki kekuatan gaib dari
    leluhur (dinamisme). Padahal, menurut para bissu
    itu, mereka justru melakukan pemujaan terhadap Tuhan walau dengan tata cara
    ritual yang mereka yakini. Dan juga, mereka tidak menolak sunnatullah,
    melainkan menerima dan menjalankan sunnatullah.


    Di tahun 1950-an saat pecah
    pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar, Bissu merupakan salah satu pihak yang
    paling menderita. Kahar Muzakkar menganggap kegiatan para Bissu ini adalah
    menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan
    feodalisme. Karena itu kegiatan, alat-alat upacara, serta para pelakunya
    diberantas. Ratusan perlengkapan upacara dibakar atau di tenggelamkan ke laut.
    Banyak sanro (dukun) dan Bissu di bunuh atau dipaksa menjadi pria yang harus
    bekerja keras.

    Penderitaan para Sanro dan Bissu masih berlanjut ketika Orde Lama (Orla)
    ditumbangkan oleh rejim Orde Baru (Orba) pada tahun 1965. Keributan yang
    menyoroti arajang dan pelaksanaan upacara mappalili terjadi di Segeri. Arajang hampir
    diganyang oleh salah satu ormas pemuda yang berkuasa ketika itu. Para Bissu dan
    mereka yang percaya akan kesaktian arajang menjadi tertuduh penganut komunis
    atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka dianggap tidak beragama,
    melakukan perbuatan siriq, dianggap menganut ajaran anisme. Barang siapa masih
    menganggap arajang sebagai benda kramat berarti menduakan Tuhan. Di antara
    mereka yang tertangkap harus memilih antara mati di bunuh atau memilih masuk
    agama Islam serta menjadi manusia normal (pria). Muncul doktrin dalam
    masyarakat, bahwa bila melihat Bissu atau Wandu maka konon mereka yang
    melihatnya akan sial tidak mendapatkan rejeki selama 40 hari – 40 malam.
    Demikian pula seluruh amal baik yang diperbuatnya selama 40 hari tersebut tidak
    diterima pahalanya oleh Tuhan YME. Karena itu, jika melihat Bissu atau Wandu
    maka dia harus diusir jauh-jauh. Banyak di antara sanro dan Bissu yang
    sebelumnya sangat dihormati oleh masyarakat, kini menjadi sasaran lemparan dan
    olok-olokan bocah di jalanan.

    Gerakan pemurnian ajaran Islam tersebut mereka sebut “Operasi Toba” (Operasi
    Taubat) yang gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Sejak itu, upacara
    Mappalili mengalami kemunduran, upacara-upacara Bissu tidak lagi
    diselenggarakan secara besar-besaran. Para Bissu bersembunyi dari ancaman maut
    yang memburunya. Masyarakat tidak lagi peduli akan nasib mereka, karena
    sebagian dari mereka memang mendukung gerakan “Operasi Toba” tersebut. Sebagian
    masyarakat yang bersimpati kepada para Bissu, hanya tinggal diam tanpa bisa
    berbuat apa-apa. Namun ketika masyarakat menuai padinya, ternyata hasilnya
    memang kurang memuaskan sehingga beberapa masyarakat beranggapan hal tersebut
    terjadi karena tidak melakukan upacara Mappalili . Dengan kesadaran itulah
    beberapa di antara mereka menyembunyikan Bissu yang tersisa agar tidak di bunuh
    dan agar upacara mappalili dapat dilaksanakan lagi. Bissu-bissu yang selamat
    itulah yang masih ada sekarang ini. Kini jumlah mereka yang tersisa di seluruh
    wilayah adat Sulawesi Selatan tidak lebih dari empatpuluh orang saja. Padahal
    untuk melakukan sebuah upacara Mappalili yang besar, jumlah Bissu minimal harus
    berjumlah empatpuluh orang (Bissu PattappuloE) dalam sebuah wilayah adat.


    Sekarang Puang Matoa sudah
    memakai kopiah dan kerudung. Di antaranya sudah ada yang telah menunaikan
    ibadah haji ke Mekkah, bahkan dalam lagu bissu-nya
    yang didapati di dalam naskah tua, sudah ada yang mencantumkan nama Allah,
    malaikat, dan nabi. Pada umumnya bissu
    asli di Sulawesi Selatan yang jumlahnya saat ini diduga tinggal empat puluh-an
    itu secara statistik kependudukan menganut agama Islam.

    Share
    Tweet

    .:. Widget Lagu Bugis .:.
    .:. Widget Lagu Bugis .:.
  • Lagu Bugis Asemmpajakki'
  • Lagu Bugis Addapengengnga
  • Lagu Bugis Ajana Ia Mutajeng
  • Lagu Bugis Ana Dara Nakallolo
  • Lagu Bugis Balo Lipa
  • Lagu Bugis Botting Ale-Ale
  • Lagu Bugis Buah Mancaji Dori
  • Lagu Bugis Cani Paria
  • Lagu Bugis Cappuni Sabbaraku
  • → Lagu Bugis Lainnya...
  • Lagu Bugis 4 Juta Siddi Saping
  • Lagu Bugis Agana Gau'ku
  • Lagu Bugis Alosi Ri'polo Dua
  • Lagu Bugis Ana'na Pu'katte
  • Lagu Bugis Ajana Iya Musenge
  • Lagu Bugis Aja Ta'passaka
  • Lagu Bugis Agana Gau'ku
  • Lagu Bugis Ade Pangngampe
  • Lagu Bugis Aja Tapassaka
  • → Lagu Bugis Lainnya...
    .:. Ingat Ki' Waktu .:.

    .:. Bumi Nene'Ma'llomo .:.
  • Nasehat Nene Mallomo
  • Sidrap Di Balik Sejarah
  • Tokoh Dbalik Sidrap
  • Sejarah Kulo
  • Sejarah Sidenreng Rappang
  • Monumen Korban 40.000
  • Letak Geografis
  • Tentang Sidrap
  • → Artikel Lainnya...
    .:. Umun .:.
  • Airport Hasanuddin
  • Trans Studio
  • Jusuf Kalla
  • UMI Makassar
  • Jenderal (Purn) M Jusuf
  • sejarah UMI Makassar
  • Unhas
  • Bj Habibie
  • → Artikel Lainnya...
    .:. Anre - Anre O'gi .:.
  • Baronggo / Buronggo
  • Lapek Bugis
  • Nasu Pa'lekko
  • Coto Makassar
  • Jalan Koteq
  • Sop Konro
  • Barobbo'
  • Kue Seksi
  • → Masakan Lainnya...
    .:. Ma'guru Bhs O'gi .:.
  • Aksara Lontara
  • Penulisan Aksara
  • Kamus Online Bugis
  • Kamus ABG Bugis - Mksr
  • Ucapan Bhs Bugis
  • Istilah dalam Keluarga
  • Cerita Da'erah
  • Membaca Aksara
  • Belajar Tari Paduppa
  • .:. Widget Waktu .:.
  • Calender Tari Bugis
  • Calender Baju Bodo
  • Calender Pengantin Ceria
  • Jam Ana Ogi
  • Jam Baju Bodo
  • Jam Baju Bodo Merah
  • Tari Bosara
  • Tari Pa'joge
  • → Widget untuk Blog Lainnya...

        
    Ana Ogi™ | Sipakatau | Sipakalebbi | Sipakainge | Sipatokkong | Siparappe
    About | Contact Us | Tudang Sipulung | Download Font Bugis | Search
    Copyright © 2008 - 2011 Ana Ogi. Powered by Blogger.Com.