KOTA ARUNG ENREKANG DIDATANGI ARUNG PONE (BONE)
KOTA ARUNG ENREKANG KE. II
DIDATANGI ARUNG PONE (BONE)
(Abad XV/XVI M.)
DIDATANGI ARUNG PONE (BONE)
(Abad XV/XVI M.)
Kota anak satu-satunya Takkebuku Arung Enrekang I yang setelah dewasa dikawinkan dengan Pasoloi anak laki-laki Puang Timbang Ranga, dia mengikuti suaminya tinggal di Manena Bitu untuk memelihara kerbau. Ketika Takkebuku wafat Kota kembali tinggal di Enrekang dan menggantikan Takkebuku (ibunya) menjadi Arung Enrekang, maka di gelari Arung Enrekang II. Tetapi suaminya pulang balik antara Enrekang dan Kaluppini dinamai Puang Pasoloi karena kalau di kampung Kaluppini mau ke Enrekang berkata “Lasolomo inde pea”
Pada suatu hari datang utusan Raja Bone di Enrekang menyampaikan kepada Arung Enrekang, bahwa raja Bone akan datang melihat Manurun Kerajaan Enrekang. Oleh karena itu Kota Arung Enrekang memanggil Tomakaka Surakan dan menyampaikan maksud kedatangan Raja Bone untuk melihat Manurun Manurun Kerajaan Enrekang. Sedang yang ada sekarang tinggal Kelewang saja. Tomakaka Surakan bersedia membuat Manurun yang mengagumkan di Kampung Jalikko, karena itu pada waktu Arung Pone tiba di Enrekang diantarlah ke Jalikko. Manurun itu dibuat dari seeokor Kerbau yang paling besar di Jalikko dihiasi daun-daunan dan Kalobe.
Setelah Arung Enrekang dan Arung Pone tiba di kampung Jalikko, Tomakaka Surakan meminta kepada Arung Enrekang supaya Raja Bone diantar ketempat Manurun Kerajaan Enrekang setelah hampir gelap. Ketika Arung Pone melihat Manurun Kerajaan Enrekang dia sangat kagum dan heran, dia belum pernah melihat manurun seperti itu.
Sebelum Arung Pone kemabli ke Bone diadakanlah pertemuan, di dalam pertemuan ini Arung Pone berkata “ Sebagai tanda Bone dan Enrekang bersaudara kalau di Bone ada Ponggawa, maka di Enrekang boleh juga mengangkat Ponggawa”. Kemudian Arung Pone berkata lagi “Bahwa Tandukanan Bone, Tandukiri Enrekang, Perut Wajo, Kaki Sidenreng”
Kemudian berkata lagi dalam bahasa Lontara :
“ Narekko Tassakkai Samparajana Bone iyarega narekko Cappatallana Bone iko sijisampanuakku nerekko natettei Ganranna Bone Marengkalingai Pampanua, Narekko Natettei Ganranna Pampanua marengkalingai Sidenreng, Narekko Natettei Ganranna Sidenreng Maringkaingai Enrekang”
Karena Tomakaka Surakan berjasa membuat Manurun buatan yag dikagumi Arung Pone, maka Tomakaka Surakan diangkat menjadi Madika/Arung Lili/Takke dengan nama Madika Tallubambana sederajat dengan Puang Cemba (Karueng), Puang Taulan (Cendana), Puang Lebang (Ranga), Puang Tinggalung (Papi).
Beberapa tahun kemudian datang keputusan dari kerajaan Bone menunjuk Enrekang sebagai adat Gabungan Kerajaan-kerajaan Massenrempulu daerah dataran tinggi yang susunannya sebagai berikut :
Gabungan I. :
1. Enrekang
2. Batulappa
3. Kassa
4. Letta
5. Pituriase
Gabungan II. :
1. Enrekang
2. Batulappa
3. Kassa
4. Letta Maiwa mengganti Pituriase
Gabungan III. :
1. Enrekang
2. Batulappa
3. Kassa
4. Maiwa
5. Duri mengganti Letta yang melawan Bone. Nanti Letta merdeka dari Bone waktu Mappesonae P. Tallu Tombinna Arung Letta.
Gabungan IV. :
1. Enrekang
2. Maluwa
3. Alla
4. Buntu Batu
5. Maiwa sampai Belanda memerintah.
Binuang di suruh pilih masuk Masserempulu atau Pitu Babana Binanga, dia pilih Pitu Babana Binanga (Mandar). Ketentuan leluhur Batulappa, Kassa, Letta, bebas memilih masuk Masserempulu atau Ajatappareng karena Sawitto ibunya dan Enrekang ayahnya.
Nama kampung-kampung di Enrekang :
1. Salise
2. Andongi (Temban)
3. Kulande (Buttu Batu)
4. Kadenan (Malauwe)
5. Cepakan (Tungka)
6. Surakan (Tallubambana)
7. Kaluppang (Ke’pe)
8. dll.
Suatu ketika pernah Kota Arung Enrekang ke Ranga kampung suaminya, tetapi sewaktu di pendakian dia tidak mau teruskan perjalanan, karena itu orang-orang dari Ranga turun menjemput, tempat penjemputan itu dinamai Eppong.
Tammulawa di gelar Pabbicara saudara bapak dengan Kota Arung Enrekang dari Tungka diangkat sebagai pembantunya dan inilah membuat peraturan-peraturan didalam Pemerintahan Kerajaan Enrekang.







