SEJARAH KULO
Pada setiap tanggal 9 Nopember Kerajaan KULO yang sekarang kecamatan KULO, selalu mengadakan acara "MACCERA MANURUNG" dan selain acara ritual ada juga lomba MAPPADENDANG dan keterampilan MATTOJANG.
Untuk menelusuri sejarah berdirinya kulo, berikut ini sajian TRANSLITERASI LONTARA yang menguraikan tentang”MULA BERDIRINYA KULO” dan kisah “LAPITU MATANNA” yang diangkat dan buku Lontara milik Drs. H. Andi Badaruddin Buraerah halaman 162 yaitu Buku Lontara yang ditulis ulang di Salassa-E Massepe pada tahun 1689 / 1090 M (329 tahun yang lalu) sebagai berikut :
Adalah seorang Manurung di Bila Riyattangnge bernama “LETTE MAKKAU” kawin dengan Manurung-ngE ri Gowa ri Bola Colli Poji-E yang turun dari kayangan bersama dengan GONGnya, melahirkan dua orang anak yaitu WE KALEBBU dan MADDEWATA.
We Maddewata kawin dengan LA ULLE KAJENA ri Busa Empo Pada saat etik-detik melahirkan, guntur halilintar menggelegar tujuh kali berturut-turut dan lahirlah “LA PITU MATANNA”, dahinya lima dan nanti malam baru melek (terbuka) ketujuh matanya, Ibu susuan dan bapak susuannya (Inang Pengasuhnya) juga tujuh orang. Ketujuh matanya itu, empat di sebelah kanan dan tiga disebelah kiri. Ibu kandungnya perintahkan ibu susuannya (Inang Pengasuhnya) supaya dihanyutkan di sungai.
Bayi itu rupahnya anak setan, karena anak setan itulah yang menyebabkan halilintar menggelegar tujuh kali berturut-turut. Karena Ibu dan Bapak susuannya tidak sampai hati menghanyutkan La Pitu Matanna si bayi mungil tersebut,maka Inang pengasuhnya pergi kearah barat MABBANG (menebang kayu besar) untuk dibuat rakit. Di tempat MABBANG itu itu di beri nama LABANI. Kayu besar yang telah di tebang tadi diangkat turun kesungai. Karena kayu itu terasa ringan saja diangkat maka temapt itu di beri nama “IBARINGENG”. Di bangunlah rumah-rumah diatas rakit itu. Rakait dan rumah diatas nya selesai dikerja datang pulalah banjir, rakit pun hanyut menelusuri sungai dan tiba-tiba rakit tersebut tersangkut di Toddang Bulu Cenrana.
Bapak susuannya naik ke daratan Bulu Cenrana membuat balai-balai untuk tempat bermukim, semak-semak berupa araso dan gulma lainnya di bakar sehingga terbuka hamparan perkebunan, mereka menamakan OTTI (pisang), usaha penaman padi pun semakin berhasil, penduduk semakin banyak, setelah 40 tahun dihuni, maka daerah ini tanaman perdanya adalah OTTI yang menghidupi warganya pada waktu itu, maka tempat ini deberi nama “OTTING” sampai sekarang, yaitu suatu daerah kerajaan otonom Pitu Riase.
Dan hasil Otti yang melimpah itu, bapak susuannya kembali ke BATU membawakan Puanna (orang tua La Pitu Matanna) pisang (Otti) yang banyak, heranlah seisi Saoraja Seraya sang Raja berkata : “saya kira sudah sampai kelaut”, jawab bapak susuannya : “Tidak bisa kelaut karena rakitku tersangkut di Toddang Bulu Cenrana dan sekarang sudah ada 40 kepalah keluarga menanam pisang disana”. Tiga tahun kemudian Puanna La Pitu Matanna di Batu menyuruh bapak susuannya agar La Pitu Matanna di bawah kesini besok pagi bermain-main. Karena terlambat datang mak raja marah dan memukuli ibi susunanya La Pitu Matanna, sehingga punggung dan seluruh badannya memar dan bengkak-bengkak sementara Inangnya dirawat, datang pula La Pitu Matanna naik kerumah Puanna (Saoraja di Batu) dan bertanya :“Kenapa punggung mama membengkak” jawab Inang pengasuhnya :” saya telah dipukul berkali-kali oleh Puang ta”.
Karena La Tipu Matanna sangat marah di aniayah Inang pengasuhnya, maka dia menusuk-nusuk dengan tongkat dan memukuli orang tua kandungnya serta mengusirnya pergi dari tempat itu seraya berkata : “Pergi jauh dri sini karena memang semula kau benci saya, bahkan memerintah kan Inang pengasuhku mengha nyutkan aku disungai”.
Pergilah We Maddewata bersma suaminya Lulle Kajena (Oranmg tua kandung La Pitu Matanna) kearah selatan, di sebelah baratnya Rappeng membuka perkebunan dengan menanan “ULO”. We Maddewata melahirkan dua orang anak yaitu LAEYYAMA dan WE SUMBAGA. Denga hasil perkebunan ULO yang melimpah ruah itu maka daerah itu di beri nama “IKULO”.
Dengan hasil Ulo yang banyak itu, maka orang tua La Pitu Matanna mengirim buah Ulo dan Bette (Goreng padi muda) kepada anaknya namun kiriman itu dibuang semuanya La Pitu Matanna dan berkata : “saya tidak bisa melupakan bencinya kepada Inang Pengasuhku yang telah memukulnya mati-matian. Sampaikan supaya tinggalkan tempat itu, kalau tidak, saya akan datang lagi menusuk-nusuk di denga tongkatku”.
Utusan yang membawa kiriman Ulo, kembali dengan menyampaikan pesan La Pitu Matanna agar orang tua kandungnya tingggalkan tempat itu, maka pergilah orang tua kandungnya bersama pengikutnya menuju TANCUNG. Sesampainya di Tanjung, air danau Tempe surut sehingga banyak ikan tertangkap dikumpullah ikan-ikan tangkapan, kemudian dikirimkan anak nya iakn bersama telur ikan. Namun kiriman ikan dan telur ikan itu di buang semuanya seraya berkata : “saya tidak bisa melupakan bencinya kepada Inang pengasuhku orang tua kandungnya (We Maddeata dan Laulle Kajena) pergi lagi meninggalkan Tancung menuju PATILA. Di Patila kawin putrinya dengan ARUNG PISING. Orang tua kandungnya mengirim lagi kue Kanre Jawa. Sesampai kiriman Kanre Jawa itu, langsung La Tipu Matanna memerintahkan mengembalikan kanre Jawa tersebut seraya berkata :”parewekengngisa (kembalikan saja) karena saya tidak bisa melupakan ketika memukuli dan menyiksa Inang pengasuhku” jadi terpaksa utusan itu kembali bersaama kiriman yang dibawahnya.
Selanjutnya orang tua kandung La Pitu Matanna menyuruh anaknya yang bernama “BOTTING – NGE” kembali ke KULO dan mengangkatnya menjadi RAJA PERTAMA KERAJAAN KULO. Kemudian kedua orang tua La Pitu Matanna pergi lagi meninggalkan PATILA menuju kekampung TELLE membuka persawahan dengan hasil tanaman melimpah ruah, di mintalah Coppo lappo Asena (puncak lumbung padinya) untuk makanan ayam ternak. Kemudian pergi lagi menuju ksebelah timunya MAMPU menanam pisan dan padi tanpa gangguan hama dan penyakit tanaman; tidak pula ketinggalan pula menanam “BUNGA WELLU”. Lau Ulle Kajena (orang tua kandung La Pitu Matanna) bermimpi menggali TUJUH SUMUR, maka di galihlah sumur tujuh buah.
Setelah galian sumur selesai dan berair semua dia bertanya kepada pengikutnya :”kenapa sumur-sumur iru idak ada bunganya”. Jawab pengikutnya :”nanti kalau sudah sampai waktunya URE – URE PEDDIKESSO – WE (pukul 12 tengah hari)” dan TARAWU – E (tanda –tanda keadaan cuaca dalam Lontara Pattaungeng) berdiri, maka akan datang tujuh gadis belia turun menyelam diair dan memetik – metik bunga sampai tiba waktu Ure Peddikesso – E. Ketika itu La Ulle Kajena (orang tua kandung La Tipu Matanna) menyembunyikan dia dia agr tidak terlihat ketujuh gadis tersebut, seraya berkata :”gadis paling timur itu paling cantik”, ketujuh anak gadis itu naik lagi kelangit. Di tempoat gadis yang paling cantik di sebelah timur tadi, di gali lagi sumur, kemudia setelah tiba waktunya Ure – Ure Peddikesso – We dia pergi lagi menyembunyikan dirinya dengan menutup dirinya denga daun pisang. Ke tujuh anak gadis itu datang lagi turun dari langit langsung membuka pakaiannya dan terus turun menyelam. Gadis paling cantik di sebelah timur tadi menyampaikan kepada teman-temanya :”ayo mandi cepat-cepat rupanya ada bau manusia dekat dari sini”. Selepas menyuruh teman-temanya mandi cepat, tiba-tiba gadis paling cantik itu di tangkap pangkal lengannya oleh La Ulle Kajena dan merampas pakaiannya,kemudian La Ulle Kajena, melepaskan sarungnya dan memasangkan kepada gadis cantik itu, sedang temannya yang enam lainnya secepat kilat melayang naik kekayangan.
Gadis yang di tangkap itu digendong kerumah La Ulle Kajena, di berilah sarung dan baju dan langsung di pakaikan kemudia di masukkan kedalam Buluh (tabung) sumpit manurung, ditutup dengan Patti Taibani, takut kalau lepas melayang naik kelangit. Biar mau buang air besar tetap juga di pegang tempatnya sigadis itu karena takut kalau melayang lagi naik kekayangan.
Oleh : H ANDI BADARUDDIN B
Sekretaris II Lembaga Adat Daerah Sidenreng Rappang
Untuk menelusuri sejarah berdirinya kulo, berikut ini sajian TRANSLITERASI LONTARA yang menguraikan tentang”MULA BERDIRINYA KULO” dan kisah “LAPITU MATANNA” yang diangkat dan buku Lontara milik Drs. H. Andi Badaruddin Buraerah halaman 162 yaitu Buku Lontara yang ditulis ulang di Salassa-E Massepe pada tahun 1689 / 1090 M (329 tahun yang lalu) sebagai berikut :
Adalah seorang Manurung di Bila Riyattangnge bernama “LETTE MAKKAU” kawin dengan Manurung-ngE ri Gowa ri Bola Colli Poji-E yang turun dari kayangan bersama dengan GONGnya, melahirkan dua orang anak yaitu WE KALEBBU dan MADDEWATA.
We Maddewata kawin dengan LA ULLE KAJENA ri Busa Empo Pada saat etik-detik melahirkan, guntur halilintar menggelegar tujuh kali berturut-turut dan lahirlah “LA PITU MATANNA”, dahinya lima dan nanti malam baru melek (terbuka) ketujuh matanya, Ibu susuan dan bapak susuannya (Inang Pengasuhnya) juga tujuh orang. Ketujuh matanya itu, empat di sebelah kanan dan tiga disebelah kiri. Ibu kandungnya perintahkan ibu susuannya (Inang Pengasuhnya) supaya dihanyutkan di sungai.
Bayi itu rupahnya anak setan, karena anak setan itulah yang menyebabkan halilintar menggelegar tujuh kali berturut-turut. Karena Ibu dan Bapak susuannya tidak sampai hati menghanyutkan La Pitu Matanna si bayi mungil tersebut,maka Inang pengasuhnya pergi kearah barat MABBANG (menebang kayu besar) untuk dibuat rakit. Di tempat MABBANG itu itu di beri nama LABANI. Kayu besar yang telah di tebang tadi diangkat turun kesungai. Karena kayu itu terasa ringan saja diangkat maka temapt itu di beri nama “IBARINGENG”. Di bangunlah rumah-rumah diatas rakit itu. Rakait dan rumah diatas nya selesai dikerja datang pulalah banjir, rakit pun hanyut menelusuri sungai dan tiba-tiba rakit tersebut tersangkut di Toddang Bulu Cenrana.
Bapak susuannya naik ke daratan Bulu Cenrana membuat balai-balai untuk tempat bermukim, semak-semak berupa araso dan gulma lainnya di bakar sehingga terbuka hamparan perkebunan, mereka menamakan OTTI (pisang), usaha penaman padi pun semakin berhasil, penduduk semakin banyak, setelah 40 tahun dihuni, maka daerah ini tanaman perdanya adalah OTTI yang menghidupi warganya pada waktu itu, maka tempat ini deberi nama “OTTING” sampai sekarang, yaitu suatu daerah kerajaan otonom Pitu Riase.
Dan hasil Otti yang melimpah itu, bapak susuannya kembali ke BATU membawakan Puanna (orang tua La Pitu Matanna) pisang (Otti) yang banyak, heranlah seisi Saoraja Seraya sang Raja berkata : “saya kira sudah sampai kelaut”, jawab bapak susuannya : “Tidak bisa kelaut karena rakitku tersangkut di Toddang Bulu Cenrana dan sekarang sudah ada 40 kepalah keluarga menanam pisang disana”. Tiga tahun kemudian Puanna La Pitu Matanna di Batu menyuruh bapak susuannya agar La Pitu Matanna di bawah kesini besok pagi bermain-main. Karena terlambat datang mak raja marah dan memukuli ibi susunanya La Pitu Matanna, sehingga punggung dan seluruh badannya memar dan bengkak-bengkak sementara Inangnya dirawat, datang pula La Pitu Matanna naik kerumah Puanna (Saoraja di Batu) dan bertanya :“Kenapa punggung mama membengkak” jawab Inang pengasuhnya :” saya telah dipukul berkali-kali oleh Puang ta”.
Karena La Tipu Matanna sangat marah di aniayah Inang pengasuhnya, maka dia menusuk-nusuk dengan tongkat dan memukuli orang tua kandungnya serta mengusirnya pergi dari tempat itu seraya berkata : “Pergi jauh dri sini karena memang semula kau benci saya, bahkan memerintah kan Inang pengasuhku mengha nyutkan aku disungai”.
Pergilah We Maddewata bersma suaminya Lulle Kajena (Oranmg tua kandung La Pitu Matanna) kearah selatan, di sebelah baratnya Rappeng membuka perkebunan dengan menanan “ULO”. We Maddewata melahirkan dua orang anak yaitu LAEYYAMA dan WE SUMBAGA. Denga hasil perkebunan ULO yang melimpah ruah itu maka daerah itu di beri nama “IKULO”.
Dengan hasil Ulo yang banyak itu, maka orang tua La Pitu Matanna mengirim buah Ulo dan Bette (Goreng padi muda) kepada anaknya namun kiriman itu dibuang semuanya La Pitu Matanna dan berkata : “saya tidak bisa melupakan bencinya kepada Inang Pengasuhku yang telah memukulnya mati-matian. Sampaikan supaya tinggalkan tempat itu, kalau tidak, saya akan datang lagi menusuk-nusuk di denga tongkatku”.
Utusan yang membawa kiriman Ulo, kembali dengan menyampaikan pesan La Pitu Matanna agar orang tua kandungnya tingggalkan tempat itu, maka pergilah orang tua kandungnya bersama pengikutnya menuju TANCUNG. Sesampainya di Tanjung, air danau Tempe surut sehingga banyak ikan tertangkap dikumpullah ikan-ikan tangkapan, kemudian dikirimkan anak nya iakn bersama telur ikan. Namun kiriman ikan dan telur ikan itu di buang semuanya seraya berkata : “saya tidak bisa melupakan bencinya kepada Inang pengasuhku orang tua kandungnya (We Maddeata dan Laulle Kajena) pergi lagi meninggalkan Tancung menuju PATILA. Di Patila kawin putrinya dengan ARUNG PISING. Orang tua kandungnya mengirim lagi kue Kanre Jawa. Sesampai kiriman Kanre Jawa itu, langsung La Tipu Matanna memerintahkan mengembalikan kanre Jawa tersebut seraya berkata :”parewekengngisa (kembalikan saja) karena saya tidak bisa melupakan ketika memukuli dan menyiksa Inang pengasuhku” jadi terpaksa utusan itu kembali bersaama kiriman yang dibawahnya.
Selanjutnya orang tua kandung La Pitu Matanna menyuruh anaknya yang bernama “BOTTING – NGE” kembali ke KULO dan mengangkatnya menjadi RAJA PERTAMA KERAJAAN KULO. Kemudian kedua orang tua La Pitu Matanna pergi lagi meninggalkan PATILA menuju kekampung TELLE membuka persawahan dengan hasil tanaman melimpah ruah, di mintalah Coppo lappo Asena (puncak lumbung padinya) untuk makanan ayam ternak. Kemudian pergi lagi menuju ksebelah timunya MAMPU menanam pisan dan padi tanpa gangguan hama dan penyakit tanaman; tidak pula ketinggalan pula menanam “BUNGA WELLU”. Lau Ulle Kajena (orang tua kandung La Pitu Matanna) bermimpi menggali TUJUH SUMUR, maka di galihlah sumur tujuh buah.
Setelah galian sumur selesai dan berair semua dia bertanya kepada pengikutnya :”kenapa sumur-sumur iru idak ada bunganya”. Jawab pengikutnya :”nanti kalau sudah sampai waktunya URE – URE PEDDIKESSO – WE (pukul 12 tengah hari)” dan TARAWU – E (tanda –tanda keadaan cuaca dalam Lontara Pattaungeng) berdiri, maka akan datang tujuh gadis belia turun menyelam diair dan memetik – metik bunga sampai tiba waktu Ure Peddikesso – E. Ketika itu La Ulle Kajena (orang tua kandung La Tipu Matanna) menyembunyikan dia dia agr tidak terlihat ketujuh gadis tersebut, seraya berkata :”gadis paling timur itu paling cantik”, ketujuh anak gadis itu naik lagi kelangit. Di tempoat gadis yang paling cantik di sebelah timur tadi, di gali lagi sumur, kemudia setelah tiba waktunya Ure – Ure Peddikesso – We dia pergi lagi menyembunyikan dirinya dengan menutup dirinya denga daun pisang. Ke tujuh anak gadis itu datang lagi turun dari langit langsung membuka pakaiannya dan terus turun menyelam. Gadis paling cantik di sebelah timur tadi menyampaikan kepada teman-temanya :”ayo mandi cepat-cepat rupanya ada bau manusia dekat dari sini”. Selepas menyuruh teman-temanya mandi cepat, tiba-tiba gadis paling cantik itu di tangkap pangkal lengannya oleh La Ulle Kajena dan merampas pakaiannya,kemudian La Ulle Kajena, melepaskan sarungnya dan memasangkan kepada gadis cantik itu, sedang temannya yang enam lainnya secepat kilat melayang naik kekayangan.
Gadis yang di tangkap itu digendong kerumah La Ulle Kajena, di berilah sarung dan baju dan langsung di pakaikan kemudia di masukkan kedalam Buluh (tabung) sumpit manurung, ditutup dengan Patti Taibani, takut kalau lepas melayang naik kelangit. Biar mau buang air besar tetap juga di pegang tempatnya sigadis itu karena takut kalau melayang lagi naik kekayangan.
Oleh : H ANDI BADARUDDIN B
Sekretaris II Lembaga Adat Daerah Sidenreng Rappang







