Tradisi dan kepercayaan Masyarakat Islam Bugis Makassar
Sumber : http://pangkep.go.id/
1. Tradisi Pembacaan Kitab Barzanji
Seperti diketahui. Agama islam masuk di Sulawesi Selatan dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar. Bukti nyata terhadap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat dilihat dalam tradisi-tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini.
Seperti tradisi mabbarazanji, yakni tradisi pembacaan Barzanji. Sebuah kitab yang berisi sejarah. Nabi Muhammad SAW dalam setiap hajatan dan acara doa-doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya. Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai antara budaya Bugis Makassar.
Sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan, setiap ada acara atau ritual adat maka seringkali diisi acara pembacaan naskah I La Galigo dan Meongpalo KarellaE. Tampaknya para penyebar agama Islam tidak berusaha mematikan kreatifitas tradisional orang Bugis Makasar, tapi mengislamkanya dengan jalan mengganti bacaan sejarah kehidupan Rasullullah muhammad SAW.
Bukti lain adanya kenyataan bahwa Islam yang berkembang di Sulawesi Selatan adalah islam mistik, Konon ketiga penyiar islam. Datuk Ditiro, Datuk Patimang, Datuk ri Bandang, memang sengaja diutus ke Sulawesi Selatan untuk menyiarkan islam, karena ketiganya adalah penganut islam yang kuat di bidang sufistik (tasawuf). Hal ini dimaksudkan untuk mensinergikan pengetahuan mistik masyarakan Bugis Makassar, yang notabene mereka pelajari dari naskah I La Galigo da Lontara-lontara peninggalan nenek moyang mereka.
Begitu pula pembacaan barzanji (mabbarazanji/akbarazanji) pada setiap perayaan siklud hidup, sebut saja midalnya perayaan : alahere (kelahiran anak), aqeqah (aqiqah),
Appasunna(khitanan), appatamma (menamatkan pendidikan atau bacaan al-quran), appabunting (perkawinan), menre bola (naik rumah), naik ri makkah (akan berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji), ammateang (kematian), dan lain sebagainya. Pasal perayaan-perayaan tersebut diatas sangat sarat dengan simbol-simbol “kepercayaan lama”
2. Tradisi Perayaan Mulid Nabi, “Ammaudhu”
Dalam masyarakat Bugis makassar, masih sangat kental perayaan-perayaan hari-hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan Maulid nabi muhammas SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut:
* Appakaramula
* Ammone baku
* Ammode baku
* Angngantara kanre maudu
* Pannarimang kanre maudu
* A’rate (assikkiri)
* Pammacang salawa
* Pattoanang
* Pabbageang kanre maudu
Perayaan hari – hari besar islam juga menghadirkan pembacaan :"zikiri Barazanji”, selain maulid nabi adalah : Isra Mi’raj, sepuluh muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doank” (pembaca doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) kerumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan.
3. Tradisi Berziarah
Tradisi berziarah biasanya dilaksanakan usai pelaksanaan acara penting dalam hidup seseorang, seperti usai melaksanakan acara perkawinan maka kedua mempelai mengunjungi kuburan (berziarah) ke makam keluarga dan nenek moyangnya.
Tradisi berziarah umum dilaksanakan masyarakat usai melaksanakan sholat Idul Fitri. Sehabis dari masjid atau lapangan langsung menuju ke kuburan umum untuk menziarahi kuburan keluarganya. Disana mereka menabur bunga seraya memanjatkan doa keselamatan keluarga yang telah mendahuluinya serta keselamatan dan berkah bagi yang hidup.
4. Tradisi Memulai Mengaji dan Nipatamma
Tradisi ini berkenaan dengan permulaan mengaji bagi anak-anak di kampong yang “mengaji kampong”.Biasanya dipersyaratkan sebelum memulai mengaji di tuan guru atau pada “guru pangngaji”. Membawa pisang beberapa sisir kerumah sang guru. Pisang itu nantinya “di baca” dirumah sang guru. Sekarang ini, hantaran pisang adapula yang menggantinya dengan barang kebutuhan sembako, seperti beras atau gula untuk sang guru.
Berbesa halnya dengan guru TK/TPA yang umum dikenal sekarang ini, sang guru mengaji (guru panggaji) ini biasanya tidak digaji tapi cukup di balas dengan keharusa anak – anak mengaji ini mengangkat kan air untuk kebutuhan sehari-hari sampai penuh tempat air (baranneng) sang guru. Dalam melakukan tugas ini, anak-anak mengaji saling berganti satu sama lain memenuhi air baranneng tersebut.
Setelah anak-anak mengaji ini menamatkan qur-an kecil (Dzuz amma) atau qur-an besar (30 djuz) maka dipersyaratkan untuk”Nipatamma”, yaitu tradisi mengakhiri suatu kumpulan bacaan dengan hantaran makanan berupa pisang beberapa sisir, makanan sokko’ (beras ketan), yag didalamnya terdapat ayam,telur dan lain sebagainya yang dibaca dalam satu “kappara”(wadah makanan yang disajikan).
5. Tridisi Maleppe (Lebaran)
Tradisi ini bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Secara umum, tradisi dikenal dengan istilah “lebaran” atau “Maleppe”. Sesuai melaksanakan sholat idul fitri atau idul adha. Masyarakat berbondong-bondong saling mengunjungi satu sama lain sesame kerabat handai taulan. Kegiatan kunjung – mengunjung ini di sebut “assiara” (silaturahmi).
Biasa pada rumah-rumah penduduk, umum disajikan makanan khas lebaran, seperti burasa, mandura atau ketupat(ketupat) serta sajian makanan ayam dan ikan bandeng. Pada masyarakat yang masih berbekas kepercayaan lamanya, sajian makanan lebaran tersebut terlebih dahulu harus “dibaca”oleh puang anre guru atau daeng imam (pemuka agama/imam).
6. Tradisi Perayaan 10 muharram (asyura)
Tradisi ini biasanya ditandai dengan ramainya masyarakat Bugis Makassar pada daerah-daerah pedalaman membuat bubur yang di sebut “jepe syura”. Bubur tersebut dihiasi dengan berbagai macam potongan-potongan panjang telur dadar warna-warni, tumpi-tumpi kecil, ikan, udang, dan lain sebagainya.
7. Tradisi Je’ne – je’ne Sappara
8. Kepercayaan masyarakat Tentang makhluk Halus
Meski dalam islam,hanya umum dikenal syetan dan jin sebagai penggoda manusia dalam berbuat amal kebajikan, amun bagi orang Bugis Makassar, terkadang lebih takut kepasa “mahkluk halus” yang dianggap suka mengganggu dan menimbulkan malapetaka bagi manusia, seperti poppo (peppo), parakang, kalimpao, dan dongga(longga).
Orang-orang tua Bugis Makasar juga terkadang menanamkan kepercayaan itu pada anaknya dengan berusaha menakuti-akutinya bahwa di suatu tempat, ada popponya, ada parakangnya dan lain sebagainya.Parakang sebenarnya berwujud manusia, tetapi dalam mencari mangsanya ia berubah wujud menjadi binatang, kerbau, sapi, atau anjing.
Orang yang menjadi “Parakang” biasanya tidak mengetahui bahwa dirinya parakang sebab yang berubah hanyalah rohnya. Parakang mengganggu mangsanya dengan memakan dan menyedot organ tubuh bagian dalam seprti hati, usus, dan jantung.(Ahmad Saransi,2003).
Itulah sebabnya seperti lazin kita dengar, “parakkang paiso pallo”. Saat ini sudah jarang kita dengar orang memperbincangkan parakang ini. Terakhir kali penulis mendengarnya dari cerita penduduk pangkep sekitar tahun 1980-an.Tidak pernah juga ada keterangan mengenai orang yang mempunyai “ilmu parakan” itu. Cerita tentang parakan ini umumnya berkembang dari mulut ke mulut di daerah-daerah pedalaman. Karena itu, bisa jadi cerita tentang parakang ini hanya cerita rekayasa atau strategi orang-orang tua dulu untuk menentramkan anaknya agar tidak menangis atau dengan maksud lain.
9. Kepercayaan Masyarakat Mengenai “Allo Nakasa”
Masyarakat Bugis Makasar pangkep juga memiliki kepercayaan mengenai hari-hari pantangan, yang lazim disebut “allo nakasa”. Hari-hari nakasa merupakan hari-hari yang dianggap terlarang melakukan berbagai macam kegiatan dan tindakan, terutama tindakan yang menentukan dalam hidup manusia, seperti penentuan hari menikah, memulai usaha dagang, memulai tanam padi (turun sawah),merantau atau bepergian jauh dan melakukan upacara-upacara adat.
Nakasa terbagi 2 yaitu Nakasa tahunan dan nakada bualanan. Nakasa tahun nan jatuh pada tanggal satu syura (Muharram) dan dalam sepanjang tahun hari tanggal jatuhnya satu muharram itu dianggap “hari Nakasa”. Sementara , nakasa bulanan dilihat berdasarkan perhitunga tertentu, seperti perhitungan esso sibokoreng dan waktu hari pasar.
1. Tradisi Pembacaan Kitab Barzanji
Seperti diketahui. Agama islam masuk di Sulawesi Selatan dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar. Bukti nyata terhadap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat dilihat dalam tradisi-tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini.
Seperti tradisi mabbarazanji, yakni tradisi pembacaan Barzanji. Sebuah kitab yang berisi sejarah. Nabi Muhammad SAW dalam setiap hajatan dan acara doa-doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya. Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai antara budaya Bugis Makassar.
Sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan, setiap ada acara atau ritual adat maka seringkali diisi acara pembacaan naskah I La Galigo dan Meongpalo KarellaE. Tampaknya para penyebar agama Islam tidak berusaha mematikan kreatifitas tradisional orang Bugis Makasar, tapi mengislamkanya dengan jalan mengganti bacaan sejarah kehidupan Rasullullah muhammad SAW.
Bukti lain adanya kenyataan bahwa Islam yang berkembang di Sulawesi Selatan adalah islam mistik, Konon ketiga penyiar islam. Datuk Ditiro, Datuk Patimang, Datuk ri Bandang, memang sengaja diutus ke Sulawesi Selatan untuk menyiarkan islam, karena ketiganya adalah penganut islam yang kuat di bidang sufistik (tasawuf). Hal ini dimaksudkan untuk mensinergikan pengetahuan mistik masyarakan Bugis Makassar, yang notabene mereka pelajari dari naskah I La Galigo da Lontara-lontara peninggalan nenek moyang mereka.
Begitu pula pembacaan barzanji (mabbarazanji/akbarazanji) pada setiap perayaan siklud hidup, sebut saja midalnya perayaan : alahere (kelahiran anak), aqeqah (aqiqah),
Appasunna(khitanan), appatamma (menamatkan pendidikan atau bacaan al-quran), appabunting (perkawinan), menre bola (naik rumah), naik ri makkah (akan berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji), ammateang (kematian), dan lain sebagainya. Pasal perayaan-perayaan tersebut diatas sangat sarat dengan simbol-simbol “kepercayaan lama”
2. Tradisi Perayaan Mulid Nabi, “Ammaudhu”
Dalam masyarakat Bugis makassar, masih sangat kental perayaan-perayaan hari-hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan Maulid nabi muhammas SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut:
* Appakaramula
* Ammone baku
* Ammode baku
* Angngantara kanre maudu
* Pannarimang kanre maudu
* A’rate (assikkiri)
* Pammacang salawa
* Pattoanang
* Pabbageang kanre maudu
Perayaan hari – hari besar islam juga menghadirkan pembacaan :"zikiri Barazanji”, selain maulid nabi adalah : Isra Mi’raj, sepuluh muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doank” (pembaca doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) kerumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan.
3. Tradisi Berziarah
Tradisi berziarah biasanya dilaksanakan usai pelaksanaan acara penting dalam hidup seseorang, seperti usai melaksanakan acara perkawinan maka kedua mempelai mengunjungi kuburan (berziarah) ke makam keluarga dan nenek moyangnya.
Tradisi berziarah umum dilaksanakan masyarakat usai melaksanakan sholat Idul Fitri. Sehabis dari masjid atau lapangan langsung menuju ke kuburan umum untuk menziarahi kuburan keluarganya. Disana mereka menabur bunga seraya memanjatkan doa keselamatan keluarga yang telah mendahuluinya serta keselamatan dan berkah bagi yang hidup.
4. Tradisi Memulai Mengaji dan Nipatamma
Tradisi ini berkenaan dengan permulaan mengaji bagi anak-anak di kampong yang “mengaji kampong”.Biasanya dipersyaratkan sebelum memulai mengaji di tuan guru atau pada “guru pangngaji”. Membawa pisang beberapa sisir kerumah sang guru. Pisang itu nantinya “di baca” dirumah sang guru. Sekarang ini, hantaran pisang adapula yang menggantinya dengan barang kebutuhan sembako, seperti beras atau gula untuk sang guru.
Berbesa halnya dengan guru TK/TPA yang umum dikenal sekarang ini, sang guru mengaji (guru panggaji) ini biasanya tidak digaji tapi cukup di balas dengan keharusa anak – anak mengaji ini mengangkat kan air untuk kebutuhan sehari-hari sampai penuh tempat air (baranneng) sang guru. Dalam melakukan tugas ini, anak-anak mengaji saling berganti satu sama lain memenuhi air baranneng tersebut.
Setelah anak-anak mengaji ini menamatkan qur-an kecil (Dzuz amma) atau qur-an besar (30 djuz) maka dipersyaratkan untuk”Nipatamma”, yaitu tradisi mengakhiri suatu kumpulan bacaan dengan hantaran makanan berupa pisang beberapa sisir, makanan sokko’ (beras ketan), yag didalamnya terdapat ayam,telur dan lain sebagainya yang dibaca dalam satu “kappara”(wadah makanan yang disajikan).
5. Tridisi Maleppe (Lebaran)
Tradisi ini bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Secara umum, tradisi dikenal dengan istilah “lebaran” atau “Maleppe”. Sesuai melaksanakan sholat idul fitri atau idul adha. Masyarakat berbondong-bondong saling mengunjungi satu sama lain sesame kerabat handai taulan. Kegiatan kunjung – mengunjung ini di sebut “assiara” (silaturahmi).
Biasa pada rumah-rumah penduduk, umum disajikan makanan khas lebaran, seperti burasa, mandura atau ketupat(ketupat) serta sajian makanan ayam dan ikan bandeng. Pada masyarakat yang masih berbekas kepercayaan lamanya, sajian makanan lebaran tersebut terlebih dahulu harus “dibaca”oleh puang anre guru atau daeng imam (pemuka agama/imam).
6. Tradisi Perayaan 10 muharram (asyura)
Tradisi ini biasanya ditandai dengan ramainya masyarakat Bugis Makassar pada daerah-daerah pedalaman membuat bubur yang di sebut “jepe syura”. Bubur tersebut dihiasi dengan berbagai macam potongan-potongan panjang telur dadar warna-warni, tumpi-tumpi kecil, ikan, udang, dan lain sebagainya.
7. Tradisi Je’ne – je’ne Sappara
8. Kepercayaan masyarakat Tentang makhluk Halus
Meski dalam islam,hanya umum dikenal syetan dan jin sebagai penggoda manusia dalam berbuat amal kebajikan, amun bagi orang Bugis Makassar, terkadang lebih takut kepasa “mahkluk halus” yang dianggap suka mengganggu dan menimbulkan malapetaka bagi manusia, seperti poppo (peppo), parakang, kalimpao, dan dongga(longga).
Orang-orang tua Bugis Makasar juga terkadang menanamkan kepercayaan itu pada anaknya dengan berusaha menakuti-akutinya bahwa di suatu tempat, ada popponya, ada parakangnya dan lain sebagainya.Parakang sebenarnya berwujud manusia, tetapi dalam mencari mangsanya ia berubah wujud menjadi binatang, kerbau, sapi, atau anjing.
Orang yang menjadi “Parakang” biasanya tidak mengetahui bahwa dirinya parakang sebab yang berubah hanyalah rohnya. Parakang mengganggu mangsanya dengan memakan dan menyedot organ tubuh bagian dalam seprti hati, usus, dan jantung.(Ahmad Saransi,2003).
Itulah sebabnya seperti lazin kita dengar, “parakkang paiso pallo”. Saat ini sudah jarang kita dengar orang memperbincangkan parakang ini. Terakhir kali penulis mendengarnya dari cerita penduduk pangkep sekitar tahun 1980-an.Tidak pernah juga ada keterangan mengenai orang yang mempunyai “ilmu parakan” itu. Cerita tentang parakan ini umumnya berkembang dari mulut ke mulut di daerah-daerah pedalaman. Karena itu, bisa jadi cerita tentang parakang ini hanya cerita rekayasa atau strategi orang-orang tua dulu untuk menentramkan anaknya agar tidak menangis atau dengan maksud lain.
9. Kepercayaan Masyarakat Mengenai “Allo Nakasa”
Masyarakat Bugis Makasar pangkep juga memiliki kepercayaan mengenai hari-hari pantangan, yang lazim disebut “allo nakasa”. Hari-hari nakasa merupakan hari-hari yang dianggap terlarang melakukan berbagai macam kegiatan dan tindakan, terutama tindakan yang menentukan dalam hidup manusia, seperti penentuan hari menikah, memulai usaha dagang, memulai tanam padi (turun sawah),merantau atau bepergian jauh dan melakukan upacara-upacara adat.
Nakasa terbagi 2 yaitu Nakasa tahunan dan nakada bualanan. Nakasa tahun nan jatuh pada tanggal satu syura (Muharram) dan dalam sepanjang tahun hari tanggal jatuhnya satu muharram itu dianggap “hari Nakasa”. Sementara , nakasa bulanan dilihat berdasarkan perhitunga tertentu, seperti perhitungan esso sibokoreng dan waktu hari pasar.







